Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Sejarah Sultan Sultan Dompu part 1

Kisah Sejarah Sultan Sultan Dompu part 1


1. Sultan Syamsudin (Ma Wa'a Tunggu). 

Putra dari Dewa Ma Wa'a Taho dan yang pertama kali memeluk dan menerima agama Islam. Sesuai dengan periodesasi masuknya agama Islam di Dompu, maka diperkirakan Sultan Syamsuddin masuk Islam sejak tahun 1520 dan diberi gelar oleh rakyatnya sebagai Ma Wa'a Tunggu (unggul), karena unggul dalam menjalankan pemerintahan negeri dan juga unggul dalam menyebarluaskan agama Islam di Sapaju Dana Dompu yang pada waktu itu masih menganut animisme dan pengaruh agama Hindu yang dibawa oleh Majapahit. Mendirikan Istana Bata di Kandai I. Mengenai istana Bata ini dikutip hasil survei Tim Kepurbakalaan Dep. Dikbud Jakarta tahun 1974 (hal. 3) mengatakan: Doro Bata, doro dalam bahasa Dompu adalah gunung atau bukit. Situs ini sudah lama diketahui banyak terdapat susunan bata-bata merah. malah sebelumnya sudah dipakai untuk membuat rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Setelah ditemukan barang-barang yang ada sangkut-pautnya dengan kepurbakalaan, maka penggalian liar oleh masyarakat telah dilarang oleh pemerintah. 

Doro Bata adalah bekas tempat berangin-anginnya Raja Dompu yang dihubungkan dengan nama sungai yang mengalir di bagian bawah dari bukit itu yang dikenal dengan Kali Lio. Lio berarti naga, dan lambang Kerajaan Dompu saat itu adalah naga. Kali ini sendiri berfungsi sebagai tempat mandinya putri-putri Kerajaan Dompu. Di antara benda-benda yang ditemukan di sana terdapat semacam cawan dari batu yang ada hiasan seperti tali tambang di pinggir atau bibir cawan dan sudah berlubang di tengahnya.

Lokasi Doro Bata tersebut terletak di sebelah selatan Kota Dompu, di Kelurahan Kandai Satu. Situs ini pernah diselidiki oleh Prof. Dr. Gerrit Jan Held, seorang antropolog budaya Belanda pada tahun 1954. Pada bagian atas bukit itu terdapat sebuah sumur dari batu dengan kedalaman 65 cm. Dahulu masih ada tutupnya yang terbuat dari batu juga.

Beberapa buah benda temuan dari daerah Doro Ngao di dekatnya yaitu berupa barang keramik asing dari bermacam-macam jenis dan ukuran seperti mangkuk, guci, piring, cupu (tempat perhiasan) tersimpan di kantor polisi Dompu ditemukan ketika seorang petani sedang menggarap kebunnya. Menurut keteranganya dia memperoleh itu karena ada mimpi sebelumnya. 

- Menjabat selama empat puluh lima tahun. 1545-1590. (Berdasarkan data dari Pusat Dokumentasi Raja-Raja di Indonesia Pusaka, Vlaringen, Belanda. Disusun oleh Abdul Aziz Siradjuddin). Menurut buku Dari Kontrak Panjang Hingga Musnahnya Istana

- Dari Rakyat yang dikutip dari Silsilah Raja-Raja Dompu Menurut Soenardi Tahun 1976, bahwa nama istri Sultan Syamsuddin adalah Joharnani Putra Syekh Nurdin dari Mekkah.

2. Sultan Jamaludin (Manuru Dorongao). 

Saat Sultan Syamsuddin Ma Wa'a Tunggu menjadi sultan, Jamaluddin menjadi Wazirdana Mentri). Setelah Sultan Syamsuddin mangkat, ia diangka terjadi sultan. 

- Sultan Jamaluddin adalah anak dari Sultan Syamsuddin (Ma Wa'a Tunggu), dia yang mengeluarkan dirinya menjadi Raja Bicara dan masukkan saudaranya menjadi sultan. Digelarkan Manuru Dorongao (Menurut Catatan Harian Istana Kesultanan Dompu era sultan Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin).

Bertahta selama tiga puluh tujuh tahun, 1590-1627 (Berdasarkan data dari Pusat Dokumentasi Raja-Raja di Indonesia Pusaka. Vlaringen, Belanda. Disusun oleh Abdul Aziz Siradjuddin).

- Tujuh tahun sebelum turun tahta yaitu pada tahun 1620 Maschi, Kerajaan Bima berubah menjadi kesultanan dan dipimpin oleh sultan pertama-nya Sultan Abdul Kahir mulai tahun 1620 sampai dengan tahun 1640 Maschi (Daftar Sultan Bima buku Kerajaan Bima dalam sastra dan Sejarah, Henri Chambert Lior, hlm 138).

3. Sultan Sirajudin (Manuru Bata). 

Putra Sultan Syamsuddin (Ma Wa'a Tunggu), dinobatkan menjadi sultan setelah Sultan Jamaluddin mengundurkan diri menjadi ruma bicara. Sebelum dewasa bermukim di Makassar, kemudian kembali untuk mengambil alih kekuasaan dan dengan bantuan Kompeni.

- Anak Ma Wa'a Tunggu. Dialah yang menggantikan Manuru Dorongao. Digelarkan Manuru Bata. Pada saat itulah dimulai persahabatan dengan Kompeni, 1667 (Catatan Harian Kesultanan Dompu era Sultan Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin).

- Bertahta selama empat puluh tahun, 1627-1667, Jeneli Dea. Tureli Bolo (Berdasarkan data dari Pusat Dokumentasi Raja Raja di Indonesia Pusaka, Vlaringen, Belanda. Disusun oleh Abdul Aziz Siradjuddin).

4. Sultan Abdul Hamid Ahmad (Manuru Kilo). 

Putra Sultan Sirajuddin yang bergelar Manuru Bata dan kawin dengan putri Makassar, saudari Sultan Hasanuddin. Dan, dengan demikian hubungan antara Kesultanan Dompu dan Makassar mulai dibina dengan erat. Dalam perjalananya kembali dari Batavia dalam rangka memenuhi panggilan Belanda, ia dibunuh oleh rakyatnya yang anti untuk bekerja sama dengan Belanda yang telah menduduki Batavia waktu itu. Rakyat menganggap apabila Belanda datang ke Dompu maka akan mengembangkan agama Kristen seperti orang Portugis yang telah mengadakan provokasi negatif tentang Islam, antara lain, orang masuk Islam (lelaki dipotong kemaluannya dan wanita dicungkil kemaluannya).

Dari peristiwa ini dapat dimengerti tentang dalamnya keyakinan masyarakat Dompu terhadap Islam, sehingga segala yang berbau bukan Islam dicegah masuknya ke Negeri Dompu. Ia memiliki putra bernama Daeng Ma Mbani tapi tidak menjadi sultan. Ia mangkat dan dimakamkan di Malaju-Kilo kemudian diberi gelar Manuru Kilo.

- Bertahta selama tiga puluh tahun, 1667-1697. (Berdasarkan data dari Pusat Dokumentasi Raja-Raja di Indonesia Pusaka, Vlaringen, Belanda. Disusun oleh Abdul Aziz Siradjuddin).

- Menurut J. Hoge dalam The Family of the Rajah of Tambora at the Cape (1951: 27-29), istri Sultan Abdul Hamid Ahmad Manuru Kilo dibunuh oleh Raja Nijam ad-Din Abd al-Bashir atau Nalaluddin Abdul Basyir dan Raja Tambora tersebut diasingkan ke Cape Town dengan resolusi pemerintahan Batavia bernomor 13/8/1697. Ia juga dianggap memberontak pada VOC, kemudian raja tersebut meninggal di Cape Town tahun 1719. Sumber: http://geomagz.geologi.esdm.go.id

- Di saat kepemimpinannya, Kerajaan Sumbawa berubah menjadi kesultanan dengan sultan pertama-nya adalah Sultan Harrunurrasyid I tahun 1674-1702 Masehi.

5. Sultan Abdul Rasul I (Manuru Laju). 

Putra Sultan Sirajuddin (Manuru Bata). Ia terbilang seorang arif dan bijaksana, dan menyadari bahwa Sultan Abdul Hamid Ahmad (Manuru Kilo) dibunuh oleh rakyatnya karena mau mengadakan kerja sama dengan Belanda. Maka itu sebabnya selama memerintah ia selalu dengan sangat hati-hati dan segala masalah pemerintahan dilakukan atas dasar musyawarah dengan para pemimpin (Rato - Rato) sebagai menteri. Sehinga ia dianggap sultan yang arif dan bijaksana. Selama ia memerintah banyak pula para mubalig-mubalig yang berdatangan seperti yang pernah diliput sebelumnya. Ada yang kawin dan meninggal di Dompu seperti Syekh Hasanuddin dari Sumatera yang dimakamkan di Waro Kali (Waro adalah leluhur dan kali adalah Qadi) dan dianggap keramat di Dompu.

Dengan demikian maka keyakinan beragama Islam bagi masyarakat Dompu semakin kuat, kendatipun di sana-sini masih dicemari oleh budaya animisme seperti toho ra dore atau dikenal dengan sesajian dalam upacara adat.

la memiliki putra bernama Sultan Usman (Manuru Goa) (1718 1727), Sultan Ahmad Alaludin Johansyah (Manuru Kambu) (1749 1766) dan Sultan Abdul Kadir Ma Wa'a Alus (1766-1770). Ia juga memiliki saudara perempuan yang melahirkan Sultan Abdul Kahar (Ma Wa'a Hidi) (1732-1749).

la termasuk sultan yang sering berperang dengan kerajaan-kerajaan yang ingin menganggu kedaulatannya. la dikuburkan di Laju dan bergelar Manuru Laju.

- Bertahta selama dua puluh satu tahun, 1697-1718 Bumi So Rowo (Berdasarkan data dari Pusat Dokumentasi Raja-Raja di Indonesia Pusaka, Vlaringen, Belanda. Disusun oleh Abdul Aziz Siradjuddin).

- Sultan Abdurrasul anak dari Sultan Sirajuddin (Manuru Bata). Ibunya anak Raja Makassar. Digelarkan Manuru Laju. Dialah yang berani (Catatan Harian Kesultanan Dompu era Sultan Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin).

6. Sultan Usman Daeng Manambang (Manuru Goa). 

Adik dari Sultan Ahmad Jalaludin Johansyah (Manuru Kambu). Ia juga memerintah tidak lama karena meninggal di Goa, Makassar, kemudian di beri gelar Manuru Goa. Ketika ia naik tahta, di Makassar sedang terjadi peperangan Makassar melawan Belanda tahun 1660 1670. Saat itulah ia memerintah. 

la memiliki Putra bernama sultan Syamsuddin Abdul Yusuf Ma Wa Sampela (1727-1732) dan sultan Kamaludin-Ma Waalha (1732). 

- Bertahta selama sembilan tahun, 1718-1727 (Berdasarkan data dari Pusat Dokumentasi Raja-Raja di Indonesia Pusaka, Vlaringen, Belanda. Disusun oleh Abdul Aziz Siradjuddin).

- Sultan Usman adalah anak dari Sultan Abdurrasul 1 (Manuru Laju), ialah yang meninggal di Makassar. Digelarkan Manuru Parabo (Catatan Harian Kesultanan Dompu era Sutan Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin).

7. Sultan Abdul Kahar Daeng Mamu (Ma Wa'a Hidi). 

Putra saudara perempuan Sultan Abdul Rasul I (Manuru Laju). diangkat sementara karena putra Sultan Usman (Manuru Goa) masih kecil.

Pada saat itu terjadi kekosongan pimpinan pemerintahan di Dompu dan untuk mengisi kekosongan tersebut maka diangkatlah Abdul Kahar sebagai Sultan Dompu. Ia pernah berperang melawan Raja Bone dan terdapat barang rampasan berupa senjata sakti. Di Dompu, senjata itu dinamakan Balaba, dan terdapat pula tawanan perang dan untuk tempat tinggal para tawanan ia membuka pemukiman baru di Dompu yang sampai sekarang dikenal dengan nama-nama yang ada di Sulawesi seperti Bada, Kandai asal kata Kendari, Bugis, Mantro asal kata Maros dan Bali, kemudian ia diberi gelar Ma Wa'a Hidi.

- Bertahta selama tujuh belas tahun, 1732-1749. (Berdasarkan data dari Pusat Dokumentasi Raja-Raja di Indonesia Pusaka. Vlaringen, Belanda. Disusun oleh Abdul Aziz Siradjuddin).

- Setelah berkuasa, Sultan Abdul Kahar (Daeng Mamu) mengganti nama istana Bata menjadi Kendari (sekarang menjadi Kandai), karena dominasi penduduknya dari Kendari. Sulawesi Utara, tempat asal ibundanya. Beberapa tempat di wilayah bagian selatan kerajaan diberikan kepada orang Thonando, Kampung Ndano. Sekelompok orang dari etnis Bugis diberikan tempat yang kemudian diberi nama Bada dan Bugis, etnis Jawa di Kampung Karijawa. etnis Bali di Pampung Bali (Hans Hagerdal, 2017:108).

8. Sultan Syamsuddin Abdul Yusuf (Ma Wa'a Sampela). 

Setelah sultan Abdul Kaharmangkat, tampuk pemerintahan diserahkan kembali kepada keturunan Sultan Usman yaitu Sultan Syamsuddin II. la adalah putra Sultan Usman (Manuru Goa), diangkat menjadi sultan ketika masih muda dan tidak lama memimpin karena ia meninggal dunia dan kemudian diberi gelar dengan Ma Wa'a Sampela.

- Bertahta selama lima tahun. 1727-1732 (Berdasarkan data dari Pusat Dokumentasi Raja-Raja di Indonesia Pusaka, Vlaringen. Belanda. Disusun oleh Abdul Aziz Siradjuddin).

9. Kamaluddin (Ma Wa'a lha).

- la bertahta tidak sampai setahun (1732), lalu diasingkan ke Sumbawa (Berdasarkan data dari Pusat Dokumentasi Raja Raja di Indonesia Pusaka, Vlaringen, Belanda. Disusun oleh Abdul Aziz Siradjuddin).

Sultan Kamaluddin adalah saudara dari Sultan Syamsuddin Abdul Yusuf Ma Wa'a Sampela

- Ketika Sultan Syamsuddin Abdul Yusuf Ma Wa'a Sampela mangkat, maka tahta kesultanan beralih kepadannya, tapi sayang beberapa bulan kemudian terjadi pergolakan politik di pusat kekuasaan Kesultanan Dompu dan akhirnya Sultan Kamaluddin di turunkan dari tahta kemudian sang sultan menyelamatkan diri ke Sumbawa (Hansa Hagerdal, 2017:108).

- Bergelar Ma Wa'a Iha, ibunya anak Raja Sumbawa (Catatan Harian Kelustanan Dompu era Sultan Tajul Arifin Sirajuddin).

10. Sultan Ahmad Jalaludin Johansyah (Manuru Kambu).

 Putra Sultan Abdurrasul I (Manuru Laju). Ialah yang meninggal di Kambu, sekembali dari Makassar. Digelarkan Manuru Kambu Kuburannya terletak di Kampung Soro Kilo

- Bertahta selama enam belas tahun, 1749-1765 (Berdasarkan data dari Pusat Dokumentasi Raja-Raja di Indonesia Pusaka  Vlaringen, Belanda. Disusun oleh Abdul Aziz Siradjuddin). 



>>>  Kisah Sejarah Sultan Sultan Dompu part 2


Israil M. Saleh, Sekitar Kerajaan Dompu,2020, buku litera, Yogyakarta h. 49

1 komentar untuk "Kisah Sejarah Sultan Sultan Dompu part 1"

  1. Ternyata suku dompu di memiliki sejarah kesultanan yang cukup panjang.

    BalasHapus
data-ad-format="auto">
data-ad-format="auto">