Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Beberapa Perlawanan Terhadap Penjajah di Indonesia

Perlawanan terhadap Penjajah di Indonesia


Posisi geografis Indonesia   yang   strategis   dan   kekayaan   alamnya  yang melimpah merupakan  salah  satu  faktor  yang  menarik  bangsa  asing  untuk berdagang   dengan bangsa   Indonesia.      Namun, kemudian   bangsa   asing berusaha  untuk menguasai perdagangan  dengan  memonopoli  perdagangan hingga   munculah   kolonialisme   di Indonesia.   Negara   yang   melakukan penjajahan di Indonesia yakni (1) Portugis, (2) Spanyol, (3) Inggris, (4) Belanda, dan (5) Jepang.  Faktor yang menyebabkan Indonesia dijajah secara garis besar dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: (1) faktor internal dan (2) faktor eksternal. Faktor internal antara lain sering   terjadi   peperangan   antarkerajaan,   konflik kepentingan,  rakyat  mudah  diadu domba,  dan  sumber  daya  alam  maupun sumber  daya  manusia  yang  melimpah. Sedangkan faktor eksternal antara lain terjadinya perang salib, ekspansi/ perluasanwilayah   jajahan,   visi   mencari kekayaan,   kejayaan,   dan   penyebaran   agama   (gold, glory, and gospel), pencarian rempah-rempah, pembuktian ajaran Copernicus bahwa bumi itu berbentuk bulat, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

a)  Perlawanan terhadap Penjajahan Portugis

Portugis yang pertama kali datang ke Malaka pada tahun 1509 dipimpin oleh Alfonso  de  Albuquerque. Mereka dapat  menguasai  Malaka  pada  10  Agustus 1511. Setelah   mendapatkan Malaka, Portugis   mulai   bergerak   dari Madura sampai ke Ternate. Alfonso  de  Albuquerque  arsitek  utama  ekspansi  portugis ke   Asia,   bangsa   ini meruakan bangsa Eropa pertama yang tiba di nusantara. Pada awalnya bangsa Portugis mendirikan koalisi dan perjanjian damai pada tahun   1512  dengan   Kerajaan   Sunda   di   Parahyangan,   namun   perjanjian koalisi tersebut   gagal   akibat   sikap   permusuhan   yang   ditunjukkan   oleh sejumlah pemerintahan Islam di Jawa, seperti Demak dan Banten.

Periode adalah   periode  kejayaan   dan   pendudukan   Portugis   di nusantara adalah sebagai berikut. 

1)  Pada tahun 1511-1526, nusantara dijadi   pelabuhan   maritim   penting   bagi Bangsa    Portugis,    yang    secara    rutin    menjadi    rute    maritim    untuk menuju Pulau Maluku, Jawa, Sumatera, dan Banda.

2)  Pada tahun 1511 Portugis menaklukkan Kerajaan Malaka.

3)  Pada tahun 1512  Portugis  menjalin  hubungan  dengan  Kerajaan  Sunda untuk menandatangani     perjanjian     dagang.     Perjanjian     dagang     ini kemudian diimplementasikan pada tanggal 21 Agustus 1522 dalam bentuk dokumen kontrak.  Pada  hari  yang  sama  dibangun  juga  sebuah  prasasti yang  disebut Prasasti  Perjanjian  Portugal-Sunda.   Dengan  perjanjian  ini maka     Portugis dibolehkan membangun benteng dan gudang di Sunda Kelapa.

4)  Pada tahun 1512   Afonso   de   Albuquerque  mengirim   Franscisco  Serrao serta Antonio Albreu untuk memimpin armadanya mencari jalan ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. Dua armada yang mereka pimpin mendarat di Kepulauan Penyu dan Kepulauan Banda. Setelah mereka menjalin persahabatan dengan  penduduk  dan  raja-raja  setempat - seperti  dengan Kerajaan   Ternate   di   pulau   Ternate,   Portugis   mendapat   izin   untuk mendirikan benteng di Pikaoli. Namun hubungan dagang rempah-rempah ini tidak berjalan lama,    sebab    Portugis    menerapkan    sistem    monopoli sekaligus    melakukan penyebaran  agama  Kristen.  Pertemanan  Portugis dan   Ternate   berakhir   pada tahun   1570.   Peperangan   dengan   Sultan Babullah  berlangsung  selama  5  tahun (1570-1575),  membuat  Portugis harus   menyingkir   dari   Ternate   dan   terusir   ke Tidore    dan    Ambon. Kemudian  Perlawanan  rakyat  Maluku  akan  Portugis digunakan Belanda untuk menjejakkan kakinya di Maluku.

5)  Pada 1605, Belanda berhasil membuat Portugis menyerahkan pertahanannya di Tidore kepada Cornelisz Sebastiansz dan di Ambon kepada Steven van der Hagen.  Demikian  pula  benteng  Inggris  di  Kambelo,  Pulau  Seram, dihancurkan oleh    Belanda.    Sejak    itu    Belanda    dapat    menguasai sebagian  besar  wilayah Maluku. Kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dengan berdirinya VOC pada 1602, kemudian sejak itu Belanda menjadi penguasa tunggal di Maluku. 

Tindakan   Portugis   menerapkan   monopoli   perdagangan   yang   merugian bangsa Indonesia  mendapat   perlawanan  dari   berbagai   pihak. Perlawanan terhadap penjajahan     Portugis     dilakukan     di     berbagai     daerah untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Perlawanan  rakyat  Maluku  dipimpin  oleh  Sultan  Ternate. Pada  tahun  1533, Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku untuk mengusir Portugis di   Maluku.   Penyebabnya adalah rakyat Maluku   merasa   dirugikan Portugis karena keserakahannya    dalam    memperoleh    keuntungan    melalui usaha      monopoli perdagangan  rempah-rempah.  Pada  1570, Sultan Hairun memimpin   rakyat   Ternate melakukan       perlawanan       terhadap     bangsa Portugis.   Namun,     karena kelicikan Portugis Sultan  Hairun,  akhirnya  tewas terbunuh  di  dalam  Benteng  Duurstede. Perlawanan selanjutnya dipimpin  oleh Sultan Baabullah pada tahun 1574. Portugis kemudian dapat diusir dari M aluku dan kemudian bermukim di Pulau Timor.

Perlawanan    rakyat    Malaka    dipimpin    Fatahillah. Pada    1511,    dipimpin oleh Albuquerque  armada  Portugis  menyerang  Kerajaan  Malaka.  Saat  itu perlawanan rakyat terhadap kolonial Portugis di Malaka mengalami kegagalan sebab  kekuatan dan  persenjataan  Portugis  lebih  kuat  dari  Rakyat  Malaka. Pada  1527,  pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah berhasil menguasai Sunda Kelapa, Banten, dan Cirebon. Kala  itu  Portugis  dapat  ditumpas  oleh Fatahillah   dan   kemudian   Fatahillah mengubah   nama   Sunda   Kelapa   jadi Jayakarta yang memiliki  makna kemenangan besar.

Perjuangan perlawanan Rakyat Perserikatan Minahasa melawan Portugis berlangsung dari tahun 1512-1560, dengan gabungan perserikatan suku-suku di Minahasa maka mereka dapat mengusir Portugis.

b)  Perlawanan terhadap Penjajahan Spanyol

Keberhasilan     Portugis     berdagang     dan     menguasai     perdagangan di Indonesia membuat    bangsa    Eropa    lainnya    tertarik    untuk    datang    ke Indonesia. Spanyol, misalnya,     menyusul       Portugis       ke     Tidore       dan membangun    benteng      di      sana.   Pembangunan      benteng      membuat persaingan Portugis   dan   Spanyol semakin memanas. 

dan pada tahun 1527 terjadilah  pertempuran  antara  Ternate  dengan bantuan   Portugis   melawan Tidore   yang   dibantu   oleh   Spanyol.   Benteng   yang dibangun Spanyol di Tidore dapat dirampas oleh persekutuan Portugis dan Ternate. 

Pada tahun  1534 Spanyol dan Portugis menyepakati diadakan Perjanjian Saragosa, karena kedua belah  pihak  menyadari  dampak  negatif  akibat  persaingan  itu sangat besar. Adapun isi Perjanjian Saragosa itu antara lain adalah (1) Maluku menjadi daerah portugis untuk berkegiatan dan (2) Spanyol harus meninggalkan Maluku dan Portugis dan memusatkan diri di Filipina. Perjanjian ini semakin mengokohkan kedudukan     Portugis     di     Maluku.     Dalam     melaksanakan     monopoli perdagangan, Portugis juga memiliki ambisi untuk menanamkan kekuasaan di Maluku. Itulah sebabnya, rakyat dan raja Ternate kemudian menentang penuh kebijakan Portugis tersebut.

c)  Perlawanan terhadap Penjajah Inggris

Penjajahan  Inggris  di  Indonesia  berlangsung  singkat  yaitu  sekitar  5  tahun. Inggris menguasai Pulau   Jawa   setelah   melakukan   penyerangan   dengan menggunakan   60 kapal. Inggris berhasil menguasai Batavia pada 26 Agustus 1811. Melalui perjanjian yang   dikenal   dengan Kapitulasi   Tuntang   pada   18 September   1811   Belanda menyerahkan  Indonesia  kepada  Inggris.  Saat  itu yang  memimpin Indonesia  adalah Stamford Raffles.

Beberapa kebijakan Raflles saat berkuasa di Indonesia.

1)  Pemerintahan Raffles   membagi Pulau   Jawa   menjadi   16   Karesidenan, sistem  ini  diteruskan Belanda   sampai   akhir   pendudukan   di   Indonesia. Dengan    adanya    sistem karesidenan   ini   memudahkan   Inggris   dalam mengorganisir  pemerintahan. Selain itu juga mengubah sistem pemerintahan ke corak barat.

2)  Bidang Ekonomi Penghapusan  kewajiban  tanaman  ekspor menjadi  awal kebijakan     Raffles, selain itu Raffles juga menghapus pajak hasil bumi (Contingenten) serta sistem penyerahan  wajib  (Verplichte leverentie)  yang dahulu  diterapkan  oleh VOC. Raffles melakukan sistem sewa tanah untuk mendapatkan   pemasukan kas Inggris. Namun pelaksanaannya mengalami kegagalan karena (a) sulitnya menentukan jumlah pajak tanah karena harus melakukan  pengukuran  dan penelitian tentang kesuburan tanah; (b) sistem uang sebagai pajak yang harus dibayar   belum   berlaku   sepenuhnya   di masyarakat  Indonesia;  dan  (c) kepemilikan tanah masih bersifat tradisional

3)  Hukum Pada bidang hukum, Raffles mengubah pelaksanaan hukum yang sebelumnya pada pemerintahan Daendels berorientasi pada ras (warna kulit) namun pada masa Raffles lebih cenderung pada besar kecilnya kesalahan.

4)  Sosial Raffles  menghapus  adanya  kerja  rodi  dan  perbudakan,  namun dalam kenyataannya Raffles juga melakukan pelanggaran undang - undang dengan melakukan kegiatan serupa.

5)  Ilmu Pengetahuan  Pada  bidang  Ilmu  pengetahuan  Raffles  menulis  suatu buku  yang  dinamakan History of Java di  London  1817.  Selain  itu  ia  juga menulis  buku History of the East Indian Archipelago.    Raffles    mendukung perkumpulan Bataviaach Genootschap serta melakukan temuan   berupa bunga  Rafflesia  Arnoldi.  Raffles juga   pernah   mengundang   para   ahli pengetahuan   dari   luar   negeri   untuk melakukan  penelitian - penelitian  di Indonesia. Raffles menemukan bunga raksasa yang diyakini sebagai bunga terbesar  di  dunia  bersama seroang bernama Arnoldi.

Meskipun hanya sebentar berkuasa di Indonesia, tetapi Inggris pun mendapat perlawanan   dari   bangsa   Indonesia. Misalnya, perlawanan   yang   dilakukan terhadap Inggris   adalah  dilakukan   oleh  Kraton    Yogyakarta.    Karesidenan Yogyakarta saat  itu dipimpin  oleh  Sultan  Hamengkubuwana  II  atau  Sultan Sepuh. Sultan HB II terkenal keras dan sangat menentang pemerintah kolonial sehingga   membuat   orang   Eropa (Inggris) terganggu. Tanpa sepengetahuan Sultan HB II, Sunan PB IV mengutus Patih Cokronegoro untuk menemui putra mahkota  Yogyakarta.  Cokronegoro menyampaikan    bahwa    Sunan    PB    IV menghendaki  putra  mahkota  Surojo  naik  tahta dan  bersedia  membantunya. Sunan  PB  IV  menawarkan  untuk  kerja  sama  melawan Inggris  dan  ketika Inggris berhasil diusir dari Jawa, wilayah Jawa akan dibagi 2 antara Surakarta dan  Yogyakarta. Pada  tanggal  19-20  Juni  1812,  Inggris  menyerbu Keraton Yogyakarta. Dalam pertempuran 2 hari, Inggris berkekuatan 1000 serdadu berseragam   merah.   Jumlah   itu    masih   ditambah    500   prajurit   

Leguin Pangeran Prangwedono   dari   Mangkunegaran,    Surakarta.   Sultan   HB    II yang  menghadapi Inggris tidak mendapat bantuan dari Surakarta seperti yang tertulis dalam surat rahasia bahwa Surakarta akan membantu Yogyakarta dalam melakukan perlawanan terhadap     Inggris.     Perang     ini     diakhiri     dengan menyerahnya   Sultan   HB   II   dan dimulainya     penjarahan     besar-besaran harta,     pusaka,     dan     pustaka     Keraton Yogyakarta.  Setelah  itu,  Raffles memerintahkan  penangkapan  Sultan  HB  II.  Sultan HB  II  dibawa  ke  Batavia dan menunggu pengadilan disana. Sultan HB II dijatuhi hukuman pembuangan ke  Pulau  Penang  pada  awal  Juli  1812.  PB  IV  pun  dirampas sebagian wilayahnya.

Di Palembang perlawanan terhadap Inggris bermula   ketika Raffles mengirim 3 orang  utusan  yang  dipimpin  oleh  Richard  Philips  ke  Palembang  untuk mengambil alih kantor sekaligus benteng Belanda di Palembang dan meminta hak kuasa sultan atas   tambang   timah   di   Pulau   Bangka.

   Sultan   Mahmud Badaruddin II menolak permintaan  itu  dengan  merujuk  pada  surat  Raffles sebelumnya    bahwa    kalau Belanda berhasil diusir, Palembang akan menjadi kesultanan yang merdeka.  Raffles  pun  memilih  untuk  mengkhianati  janjinya tersebut.   Ia   mengirim   ekspedisi perang di tahun 1812 yang dipimpin Mayor Jenderal Robert Gillespie. Ekspedisi pun sampai dalam waktu 1 bulan di Sungai Musi.  Sultan  Mahmud  Badaruddin  II  juga sudah    bersiap-siap    menghadapi gempuran   tersebut. 

Kesultanan   Palembang akhirnya jatuh ke tangan Inggris hanya dalam waktu 1 minggu karena pertahanan di Pulau Borang sudah jebol tanpa perlawanan yang berarti. Tanggal 26 April 1812, bendera Inggris sudah berkibar di atas benteng Palembang.  Atas  inisiatif  Robinso,  Sultan  Mahmud Badaruddin  II  mau  kembali  ke  Palembang untuk   menggantikan     adiknya. Raffles    sangat    tersinggung     dengan    keputusan Robinson  karena   tidak meminta   pendapatnya   dulu.   Akhirnya,   perjanjian   Robinson dengan Sultan Mahmud Badaruddin II dibatalkan sepihak. Adanya gejolak di Eropa atas situasi Inggris  dan Belanda  berdampak pula  bagi pemerintahan  Indonesia  di bawah Inggris.   Ditandatanganinya   perjanjian   London yang   berisi   bahwa   Belanda mendapatkan kembali jajahannya pada 1814 menjadi akhir  dari  pemerintahan Inggris   di   Indonesia.   Belanda   secara   resmi   kembali menguasai Indonesia semenjak tahun 1816. 

d) Perlawanan terhadap Penjajahan Belanda

Napoleon  Bonaparte  berhasil  menaklukkan  Belanda.  Napoleon  mengubah bentuk    negara    Belanda    dari    kerajaan    menjadi    republik.    Napoleon ingin memberantas    penyelewengan    dan    korupsi    serta   mempertahankan kekuasaan Belanda   di Pulau   Jawa   dari   Inggris. Untuk   itu   ia mengangkat Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jenderal di Batavia. Untuk menahan serangan  Inggris,  Daendels  melakukan  tiga  hal yaitu 

(a) menambah  jumlah prajurit;   

(b)   membangun   pabrik   senjata,   kapal-kapal   baru,   dan pos-pos pertahanan; dan 

(c) membangun jalan raya yang menghubungkan pos satu dengan pos lainnya. 

Daendels  memberlakukan  kerja  paksa  tanpa  upah  untuk membangun  jalan. Kerja  paksa  ini  dikenal  dengan  nama  kerja  rodi.  Rakyat dipaksa  membangun  Jalan Raya  Anyer-Panarukan  yang  panjangnya  sekitar 1.000  km.  Jalan  ini  juga  dikenal dengan  nama  Jalan  Pos.  Selain  untuk membangun  jalan  raya,  rakyat  juga  dipaksa menanam    kopi    di    daerah Priangan  untuk  pemerintah  Belanda.  Banyak  rakyat Indonesia yang menjadi korban kerja rodi. Untuk mendapatkan dana biaya perang pemerintah  kolonial Belanda   menarik   pajak   dari   rakyat.   Rakyat   diharuskan membayar pajak dan menyerahkan hasil bumi kepada pemerintah Hindia Belanda.

Pada tahun 1811, Daendels dipanggil ke Belanda. Ia digantikan oleh Gubernur Jenderal Janssens. Saat itu pasukan Inggris berhasil mengalahkan Belanda di daerah Tuntang,    dekat    Salatiga,    Jawa    Tengah.    Gubernur    Jenderal Janssens   terpaksa menandatangani Perjanjian Tuntang.  Isi Perjanjian Tuntang adalah sebagai berikut.

(a) Seluruh wilayah jajahan Belanda di Indonesia diserahkan kepada Inggris.

(b) Adanya sistem pajak/sewa tanah

(c) Penghapusan sistem kerja rodi. 

(d) Pemberlakuan perbudakan.

Inggris  berkuasa  di  Indonesia  selama  lima  tahun  (1811-1816).  Pemerintah Inggris mengangkat  Thomas  Stamford  Raffles  menjadi  Gubernur  Jenderal di Indonesia.  Pemerintah  memberlakukan  sistem  sewa  tanah  yang  dikenal dengan nama landrente. Rakyat      yang      menggarap      tanah      diharuskan menyewa    dari pemerintah.  Pada  tahun  1816,  Inggris  menyerahkan  wilayah Indonesia   kepada Belanda.    

Pemerintah    Belanda    menunjuk    Van    Der Capellen    sebagai    gubernur jenderal.  Van  Der  Capellen  mempertahankan monopoli  perdagangan  yang  telah dimulai oleh VOC dan tetap memberlakukan kerja paksa. Pada  tahun  1830,  Van  Der  Capellen diganti  Van  Den  Bosch. Bosch mendapat tugas mengisi kas Belanda yang kosong. Ia memberlakukan tanam  paksa  atau cultuur stelsel untuk mengisi kas pemerintah yang kosong Adapun isi aturan tanam paksa (cultur stelsel) adalah sebagai berikut.

(a) Rakyat wajib menyediakan 1/5 dari tanahnya untuk ditanami tanaman yang laku di pasaran Eropa. 

(b) Tanah yang dipakai untuk tanamam paksa bebas dari pajak. 

(c) Hasil tanaman diserahkan kepada Belanda.

(d) Pekerjaan untuk tanam paksa tidak melebihi pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi.

(e)   Kerusakan-kerusakan   yang  tidak   dapat   dicegah   oleh   petani   menjadi tanggungan Belanda.

(f) Rakyat Indonesia yang bukan petani harus bekerja 66 hari tiap tahun bagi pemerintah Hindia Belanda.

Kenyataannya, ada banyak penyelewengan dari ketentuan itu. Misalnya, tanah yang harus disediakan oleh petani melebihi luas tanah yang telah ditentukan, rakyat harus  menanggung  kerusakan  hasil  panen,  rakyat harus  bekerja  lebih dari  66  hari, dan  lain-lain.  Akhirnya  ketentuanketentuan  yang  diatur  dalam tanam  paksa  tidak berlaku sama sekali. Pemerintah       Belanda       semakin bertindak     sewenang-wenang.    

 Tanam     paksa mengakibatkan   penderitaan luar    biasa    bagi    rakyat    Indonesia.    Hasil    pertanian menurun. Rakyat mengalami kelaparan.   Akibat kelaparan banyak rakyat yang mati. Sebaliknya, tanam   paksa   ini   memberikankeuntungan   yang   melimpah   bagi   Belanda. Namun, masih ada orang Belanda yang peduli terhadap nasib rakyat Indonesia. Akibat penderitaan yang luar biasa tersebut, terjadilah banyak perlawanan terhadap penjajah Belanda di antaranya seperti uraian berikut. 

(1) Perlawanan terhadap VOC

Pada saat VOC berkuasa di Indonesia terjadi beberapa kali perlawanan. Pada tahun 1628   dan   1629,   Mataram   melancarkan   serangan   besar-besaran terhadap   VOC   di Batavia. Sultan Agung mengirimkan ribuan prajurit untuk menggempur Batavia dari darat dan laut. Di Sulawesi Selatan VOC mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia di   bawah   pimpinan   Sultan   Hassanuddin. Perlawanan  terhadap  VOC  di  Pasuruan Jawa  Timur  dipimpin  oleh  Untung Suropati.   Sementara   Sultan   Ageng   Tirtayasa mengobarkan perlawanan di daerah Banten.

(2) Perlawanan Pattimura (1817)

Belanda  melakukan  monopoli  perdagangan  dan  memaksa  rakyat  Maluku menjual hasil  rempah-rempah  hanya  kepada  Belanda,  menentukan  harga rempah-rempah secara      semena-mena,      melakukan pelayaran hongi, dan menebangi    tanaman rempahrempah   milik   rakyat.   Rakyat   Maluku berontak atas    perlakuan  Belanda.

 Dipimpin  oleh  Thomas  Matulessi  yang  nantinya terkenal   dengan   nama   Kapten Pattimura,     rakyat     Maluku     melakukan perlawanan   pada  tahun 1817.  Pattimura dibantu  oleh  Anthony  Ribok,  Philip Latumahina,  Ulupaha,  Paulus  Tiahahu,  dan seorang pejuang wanita Christina Martha Tiahahu. 

Perang melawan Belanda meluas ke berbagai daerah di Maluku, seperti Ambon, Seram, Hitu, dan lain-lain. Belanda       mengirim       pasukan besarbesaran.     Pasukan     Pattimura     terdesak     dan bertahan  di  dalam benteng.  Akhirnya,  Pattimura  dan  kawan-kawannya  tertawan. Pada  tanggal 16 Desember 1817, Pattimura dihukum gantung di depan Benteng Victoria di Ambon.

(3) Perang Padri (1821-1837)

Perang Padri bermula dari pertentangan antara kaum adat dan kaum agama (kaum Padri).   Kaum   Padri ingin   memurnikan   pelaksanaan   agama   Islam. Gerakan   Padri   itu ditentang oleh kaum adat. Terjadilah bentrokan-bentrokan antara keduanya. Karena terdesak, kaum adat minta bantuan kepada Belanda. Belanda   bersedia   membantu kaum adat dengan imbalan sebagian wilayah Minangkabau. Pasukan Padri dipimpin oleh Datuk Bandaro. Setelah beliau wafat diganti oleh Tuanku Imam Bonjol. Pasukan Padri dengan taktik perang gerilya, berhasil mengacaukan pasukan Belanda. Karena kewalahan, Belanda mengajak berunding.   

Pada   tahun 1925 terjadi   gencatan   senjata.   Belanda   mengakui beberapa  wilayah sebagai  daerah  kaum  Padri.  Perang  Padri  meletus  lagi setelah  Perang  Diponegoro berakhir.  Tahun  1833  terjadi  pertempuran  hebat di  daerah  Agam.  Tahun  1834 Belanda mengepung  pasukan  Bonjol.  Namun pasukan  Padri  dapat  bertahan sampai dengan  tahun  1837.  Pada  tanggal  25 Oktober  1837,  benteng  Imam  Bonjol  dapat diterobos. Beliau tertangkap dan ditawan.

(4) Perang Diponegoro (1925-1830)

Perang  Diponegoro  berawal  dari  kekecewaan  Pangeran  Diponegoro  atas campur tangan   Belanda   terhadap   istana   dan   tanah   tumpah   darahnya. Kekecewaan     itu memuncak ketika Patih Danureja atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak untuk  membuat  rel  kereta  api  melewati  makam leluhurnya.   Dipimpin   Pangeran Diponegoro,   rakyat   Tegalrejo   menyatakan perang   melawan   Belanda   tanggal   20   Juli 1825. Diponegoro dibantu oleh Pangeran Mangkubumi sebagai penasihat, Pangeran Ngabehi   Jayakusuma sebagai   panglima,   dan   Sentot   Ali   Basyah   Prawiradirja   sebagai panglima perang.  

Pangeran  Diponegoro juga  didukung  oleh  para  ulama  dan bangsawan.  Daerah-daerah  lain  di  Jawa  ikut  berjuang  melawan  Belanda. Kyai  Mojo dari   Surakarta   mengobarkan Perang Sabil.   Antara   tahun   1825-1826   pasukan Diponegoro mampu mendesak pasukan Belanda.  Pada  tahun 1827,  Belanda  mendatangkan  bantuan  dari  Sumatra  dan  Sulawesi. Jenderal De   Kock   menerapkan   taktik   perang benteng stelsel.   Taktik   ini   berhasil mempersempit    ruang    gerak    pasukan    Diponegoro.    

Banyak    pemimpin pasukan Pangeran Diponegoro gugur dan tertangkap. Namun demikian, pasukan Diponegoro tetap   gigih.   Akhirnya,   Belanda   mengajak   berunding.   Dalam perundingan   yang diadakan  tanggal  28  Maret  1830  di  Magelang,  Pangeran Diponegoro  ditangkap Belanda. Beliau diasingkan dan meninggal di Makassar.

(5) Perang Banjarmasin (1859-1863)

Penyebab  perang  Banjarmasin  adalah  Belanda  melakukan  monopoli perdagangan dan mencampuri urusan kerajaan. Perang Banjarmasin dipimpin oleh  Pangeran Antasari.    Beliau    didukung    oleh    Pangeran    Hidayatullah. Pada    tahun    1862 Hidayatullah  ditahan  Belanda  dan  dibuang  ke  Cianjur. Pangeran  Antasari  diangkat rakyat   menjadi   Sultan.    Setelah    itu   perang meletus  kembali.  Dalam   perang   itu Pangeran Antasari luka-luka dan wafat.

(6) Perang Bali (1846-1868)

Penyebab perang Bali adalah Belanda ingin menghapus hukum tawan karang dan memaksa Raja-raja Bali mengakui kedaulatan Belanda di Bali. Isi hukum tawan karang  adalah  kerajaan  berhak  merampas  dan  menyita  barang  serta kapal-kapal yang  terdampar  di  Pulau  Bali.  Raja-raja  Bali  menolak  keinginan Belanda.  Akhirnya, Belanda  menyerang  Bali.  Belanda  melakukan  tiga  kali penyerangan,   yaitu   pada tahun   1846,   1848,   dan   1849.   Rakyat   Bali mempertahankan tanah air mereka. Setelah Buleleng dapat ditaklukkan, rakyat Bali  mengadakan perang  puputan,  yaitu berperang sampai titik darah terakhir. Di antaranya Perang Puputan Badung (1906), Perang Puputan Kusumba (1908), dan  Perang  Puputan  Klungkung  (1908).  Salah saut  pemimpin  perlawanan rakyat   Bali   yang   terkenal   adalah   Raja   Buleleng   dibantu oleh Gusti Ketut Jelantik.

(7) Perang Sisingamangaraja XII (1870-1907)

Pada  saat  Sisingamangaraja  memerintah  Kerajaan  Bakara,  Tapanuli, Sumatera Utara, Belanda datang. Belanda ingin menguasai Tapanuli. Sisingamangaraja beserta rakyat Bakara mengadakan perlawanan. Tahun 1878, Belanda menyerang Tapanuli. Namun,  pasukan  Belanda  dapat  dihalau  oleh rakyat. Pada tahun 1904 Belanda kembali menyerang tanah Gayo. Pada saat itu   Belanda   juga   menyerang   daerah Danau   Toba.    Pada    tahun    1907, pasukan  Belanda  menyerang  kubu  pertahanan pasukan   Sisingamangaraja XII      di      Pakpak.      Sisingamangaraja      gugur      dalam penyerangan   itu. Jenazahnya dimakamkan  di Tarutung, kemudian  dipindahkan  ke Balige

(8) Perang Aceh (1873-1906)

Sejak terusan Suez dibuka pada tahun 1869, kedudukan Aceh makin penting baik dari  segi  strategi  perang  maupun  untuk  perdagangan.  Belanda  ingin menguasai Aceh.   Sejak   tahun   1873   Belanda   menyerang   Aceh.   Rakyat Aceh   mengadakan perlawanan di bawah pemimpin-pemimpin Aceh antara lain Panglima Polim, Teuku Cik Ditiro, Teuku Ibrahim, Teuku Umar, dan Cut Nyak Dien.  Meskipun  sejak  tahun 1879  Belanda  dapat  menguasai  Aceh,  namun wilayah   pedalaman   dan   pegunungan dikuasai      pejuang-pejuang      Aceh. Perang       gerilya       membuat       pasukan       Belanda kewalahan.   Belanda menyiasatinya  dengan stelsel  konsentrasi, yaitu  memusatkan pasukan supaya pasukannya dapat lebih terkumpul. Belanda mengirim Dr. Snouck Hurgronje untuk mempelajari sistem kemasyarakatan penduduk   Aceh.   Dari   penelitian   yang dibuatnya,  Hurgronje  menyimpulkan  bahwa kekuatan Aceh terletak pada peran para ulama. Penemuannya dijadikan dasar untuk membuat  siasat  perang  yang baru.  Belanda  membentuk  pasukan  gerak  cepat (Marchose) untuk  mengejar dan    menumpas    gerilyawan    Aceh.    Dengan    pasukan marchose Belanda berhasil mematahkan serangan gerilya rakyat Aceh. Tahun 1899, Teuku  Umar gugur   dalam   pertempuran   di   Meulaboh.   Pasukan   Cut   Nyak   Dien   yang menyingkir ke hutan dan mengadakan perlawanan juga dapat dilumpuhkan. Setelah masa perjuangan yang masih bersifat kedaerahan, muncul masa pergerakan nasional dan Sumpah Pemuda. Perjuangan bangsa Indonesia pada masa  ini sudah mengandalkan perjuangan   melalui organisasi   dan   semangat persatuan. Tokoh pergerakan nasional antara lain: Budi Utomo, Ki Hajar Dewantara, Dewi Sartika, dr. Sutomo, Wahid Hasyim, Saman Hadi, dan masih banyak tokoh pergerakan yang lain.

e) Perlawanan terhadap Penjajah Jepang

Jepang datang ke  Indonesia   dengan maksud   tersembunyi. Beberapa   alasan kedatangan Jepang ke Indonesia adalah (a) Indonesia kaya  sumber  daya  alam seperti: rempah-rempah  dan  barang  tambang,  (b)  hasil  pertanian  Indonesia sangat dibutuhkan untuk persediaan pangan dalam peperangan, dan (c) Indonesia memliki potensi tenaga manusia yang sangat banyak untuk membantu Jepang melawan sekutu. Perjuangan para pemimpin bangsa dalam melawan pendudukan Jepang dan memperjuangkan kemerdekaan dilakukan dengan strategi kooperasi, gerakan dibawah tanah (illegal), dan perlawanan bersenjata. 

(1) Perlawanan dengan Strategi Kooperasi

Perlawanan    dengan    strategi    kooperasi    (bekerja    sama) muncul    karena Jepang melarang     berdirinya     semua     organisasi     pergerakan     nasional. Pemerintah pendudukan    Jepang    mengeluarkan    kebijakan    yang    hanya mengakui   organisasi organisasi  bentuknya  yang  ditujukan  bagi  kemenangan Perang   Asia   Pasifik.   Tokoh tokoh      pejuang nasionalis      kemudian memanfaatkan   semua   organisasi   bentukan Jepang     itu     dengan     cara menggembleng      kaum      muda       agar      terus       berusaha mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Selain  itu,  mereka  berhasil merumuskan rancangan UUD   dan   dasar   negara   yang   akan   diperlukan   apabila   Negara   telah merdeka. Adapun   bentuk   perjuangan   bangsa   Indonesia   dengan   strategi kooperasi   dilakukan melalui organisasi organisasi sebagai berikut. 

(a) Putera (Pusat Tenaga Rakyat). 

(b) Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa). 

(c) Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) dan Masyumi. 

(d) Cuo Sangi In (Badan Pertimbangan Pusat).

 (e) BPUPKI dan PPKI.

(2) Perlawanan dengan Strategi Gerakan di Bawah Tanah (Ilegal)

Perlawanan gerakan di bawah tanah atau illegal muncul akibat terlalu kuatnya pemerintah Jepang menekan dan melarang golongan oposisi. Gerakan nasionalisme yang   ada   ternyata   tidak   mampu   menandingi   kekuatan pemerintah Jepang. Oleh karena itu, beberapa perjuang nasionalis mengambil jalan  melakukan gerakan  di bawah tanah (illegal).

Strategi   perjuangan   tersebut   ternyata   dapat   terorganisir   secara   rapi dan dilakukan secara rahasia. Mereka diam dan bersembunyi untuk menghimpun kekuatan rakyat. Mereka   pun   berusaha   menanankan   semangat   persatuan dan  kesatuan  dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jaringan hubungan khusus  terus  dilakukan dengan  tokoh  pergerakan  nasional  yang  kooperasi terhadap  Jepang.  Selain  itu, mereka  membentuk  jaringan  kekuatan  dengan melakukan    sabotase    dan    tindakan destruktif (perusakan) terhadap sarana/prasarana vital milik Jepang. Pergerakan   nasional   yang   dijalankan strategi  gerakan di bawah tanah,  antara lain sebagai berikut. 

(a) Kelompok    Sutan    Syahrir,    meerupakan    kelompok    pemuda    dibawah pimpinan Sutan    Syahrir.    Mereka antara    lain menyebar    di    Jakarta, Cirebon,  Garut, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan Malang. Kelompok  ini sangat antifasisme Jepang.

(b) Kelompok   Kaigun,   merupakan   perhimpunan   para   pemua   Indonesia yang mempunyai hubungan erat dengan kepala perwakilan Angkatan Laut (Kaigun) Jepang di Jakarta, yaitu Laksamana Maeda.

(c) Kelompok   sukarni,   merupakan   kumpulan para   pemuda   anti   Jepang dibawah pimpinan Sukarni. Mereka tinggal di Asmara Angkatan Baru di Jalan Menteng 31 Jakarta.

(d) Kelompok  Persatuan Mahasiswa  yang  terdiri  atas  mahasiswa  kedokteran (Ikadaigaku), bermarkas di Jalan Prapatan No. 10 Jakarta. (e) Kelompok Amir Syarifuddin  merupakan kumpulan  pemuda  berpaham  sosialis  yang  selalu menentang kebijakan pemerintah Jepang.

(3) Perlawanan Bersenjata

Perlawanan bersenjata rakyat Indonesia yang dilakukan di berbagai daerah meliputi perlawanan rakyat (misalnya di Singapura, Jawa Barat) dan perlawanan tentara Peta.

(a) Perlawanan Rakyat Singaparna, Jawa Barat.

Perlawanan rakyat pada masa pendudukan Jepang banyak dipimpin oleh para ulama  yang  bersikap  nonkooperasi  terhadap  kebijkan  pendudukan  militer Jepang. Perlawanan  rakyat  Singapura  dipimpin  oleh  K.H  Zainal  Mustafa, seorang   pimpinan pesantren Sukammah di Singaparna,  Tasikmalaya  (Jawa Barat). Munculnya  perlawanan  rakyat  berawal  dari  paksaan  Jepang  untuk melakukan seikeirei, yaitu upacara penghormatan kepada kaisar Jepang yang dianggap   dewa dengan   cara   membungkukkan   badan   kearah   timur   laut (Tokyo).   

cara   ini   dianggap oleh   K.H   Zainal   Mustafa   sebagai   tindakan menyekutukan   Tuhan   yang   secara   tegas dilarang   oleh   agama   Islam. Selanjutnya,   K.H   Zainal   Mustafa   dengan   tegas   melarang rakyat untuk melakukan seikeirei, menyetor padi, dan bekerja untuk tentara Jepang. Jepang mengirim pasukan untuk menggempur Sukamanah dan menangkap K.H Zainal Mustafa. Akhirnya, meletuslah pertempuran bersenjata pada 25 Februari 1944 sehabis salat Jumat. Dalam pertempuran itu, banyak tentara Jepang yang luka luka   bahkan   gugur.   Sementara   itu,   ratusan   rakyat   Singapurna  menjadi korban pertempuran tersebut karena tidak sebandingnya persenjataan yang dimiliki.

(b) Perlawanan Peta di Blitar

Prajurit   prajurit   Peta   di   Blitar   dibawah   pimpinan   Shodanco   (Komandon Peleton) Supriyadi melancarkan    perlawanan    terhadap    Jepang    pada    14 Februari     1945. Perlawanan ini   timbul   karena   ia   tidak   tahan   melihat kesengsaraan  rakyat  terutama didaerah   Blitar   yang   dipekerjakan   sebagai tenaga   romusha.   Apalagi   banyak   di antara mereka merupakan sanak family keluarga prajurit Peta. Perlawanan Supriyadi dan kawan kawan sangat merepotkan pasukan Jepang. Hal ini membuat  Jepang  terpaksa  mendatangkan pasukannya  dari  tempat  lain  yang dilengkapi dengan tank tank dan pesawat tempur.  Perlawanan  Supriyadi  dan  para pengikutnya mengalami kegagalan, karena persiapan yang kurang matang dan tidak mendapat  dukungan  rakyat. Akhirnya,   prajurit   prajurit   Peta   yang   ikut   melawan Jepang, ditangkap dan dihadapkan ke Mahkamah Militer di Jakarta.

 Setelah  menjalani  beberapa  kali persidangan,  mereka  dijatuhi  hukuman  sesuai peranannya  masing  masing. Sebanyak   enam   orang   dijatuhi   hukuman   mati   karena mereka   terbukti membunuh  tentara  Jepang,  yaitu  dr.  Ismangil,  Muradi,  Sunanto, Sudarmo, Suparyono,  dan  Halir  Mangkudijaya.  Kemudian  35  orang  hukuman dijatuhi penjara antara dua tahun sampai hukuman penjara seumur hidup. Pimpinan perlawanan  Supriyadi  tidak  tersebut  dalam  siding  pengadilan  dan  juga tidak tersebut  secara  in  absentia  (tanpa  hadirnya  tertuduh).  Rakyat  menganggap bahwa Supriyadi telah tertangkap dan kemungkinan dibunuh secara diam diam oleh Jepang.





Sumber. Modul Pendidikan Profesi Guru (PPG). Modul 4. Ilmu Pengetahuan Sosial Penulis. Drs. Ruswandi Hermawan, M.Ed.

Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Modul F. Kajian IPS SD Kelas Tinggi Penulis. Dr. Ari Pudjiastuti, Falidan Ahmad, M.Pd., Istiqomah, M.Pd

artikel ini telah tayang pada partner kami mandandi.com

Posting Komentar untuk "Beberapa Perlawanan Terhadap Penjajah di Indonesia"

data-ad-format="auto">
data-ad-format="auto">