Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dompu Pada Zaman Ncuhi dan Kerajaan


DOMPU, konon pada abad ke-14 sudah mulai disebut-sebut sebagai salah satu Kerajaan yang berada di wilayah pulau Sumbawa. Dalam buku Negara kertagama tulisan Mpu Prapanca (Zaman kerajaan Majapahit masa pemerintahan raja Hayam Wuruk), nama Dompo (Dompu) bahkan disebut dalam Sumpah Palapa patih Gajah Mada sekitar tahun 1331 M yang berbunyi: SIRA GAJAH MADA PATIH AMANGKUBHUMI TAN AYUN AMUKTI PALAPA, SIRA GAJAH MADA: "LAMUN HUWUS KALAH NUSANTARA ISUN AMUKTI PALAPA, LAMUN KALAH RING GURUN, RING SERAN, TANJUNG PURA, RING HARU, RING PAHANG, DOMPO, RING BALI, SUNDA, PALEMBANG TUMASIK, SAMANA ISUN AMUKTI PALAPA". (Saya Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Saya Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo (Dompu - NTB), Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya baru akan melepaskan puasa")

Tahun 1331, Maha patih Gajah Mada dalam sumpah kesatrianya menyebut nama Dompo (Dompu), salah satu kerajaan yang terletak di pulau Sumbawa untuk di taklukkan menjadi bagian dari kerajaan Majapahit di pulau Jawa. Kenapa sang Gajah Mada ingin menaklukkan Dompu sebagai wilayah kerajaan jajahan di bawah panji kerajaan Majapahit? Berbagai sumber menyebutkan alasan Gajah Mada menaklukkan Dompu saat itu, di antaranya bahwa Dompu kala itu merupakan salah satu kerajaan di wilayah timur dikenal sebagai daerah yang sangat subur/makmur. Maka tidak heran ketika Gajah Mada akan melakukan ekspedisinya untuk menaklukkan seluruh kerajaan di bagian timur Nusantara, maka kerajaan Dompu dijadikan sebagai daerah atau wilayah untuk lumbung pangan (Stok logistic) bagi persediaan bahan makanan para pasukan tempur kerajaan Majapahit.

Apapun alasannya, yang jelas Dompu pada sekitar abad ke-14 sudah disebut-sebut sebagai salah satu wilayah kerajaan yang berada di wilayah pulau Sumbawa. Sebelum terbentuknya kerajaan, bahkan dua orang pakar/ahli arkeologi yakni DR. Haris Sukandar dan Dra. Ayu Kusumawati dari Pusat Balai Penelitian Arkeologi dan Purbakala dalam penelitian arkelogi di wilayah Kabupaten Dompu beberapa waktu lalu menyatakan bahwa, Kerajaan Dompu merupakan salah satu kerajaan yang paling tua khususnya di wilayah Indonesia Bagian Timur. Salah bukti penelitiannya adalah ditemukannya komplek situs Nangasia yang terletak di pesisir pantai La Key Kecamatan Hu'u Kabupaten Dompu NTB. Hasil temuan di komplek situs Nangasia berupa barang-barang peninggalan seperti gerabah dan peralatan sehari-hari bagi penduduk setempat yang diperkirakan usiannya sekitar 2.500 tahun SM. Artinya bahwa, jauh sebelumnya di Dompu sudah ada kehidupan peradaban manusia. Selain itu, para peneliti juga menemukan beberapa situs purbakala berupa batu kubur serta situs Wadu Kadera (kursi raja/Ncuhi yang terbuat dari batu alam).

Cerita legenda di tengah-tengah masyarakat Dompu disebutkan. berdasarkan catatan sejarah di Dompu, sebelum terbentuknya kerajaan di daerah tersebut, telah berkuasa beberapa kepala suku yang disebut sebagai "Ncuhi" atau raja kecil. Ada 5 (Lima) Ncuhi yang terkenal saat itu yakni, Ncuhi Hu'u dan Ncuhi Daha yang berkuasa di daerah Hu'u (sekarang Kecamatan Hu'u), Ncuhi Saneo yang berkuasa di daerah Saneo dan sekitarnya (sekarang Kecamatan Woja). Ncuhi Nowa berkuasa di Nowa dan sekitarnya serta Ncuhi Tonda berkuasa di Tonda (sekarang wilayah Desa Riwo Kecamatan Woja Dompu). Menurut cerita rakyat setempat, konon tersebutlah di negeri Woja berkuasa scorang Ncuhi Kula yang mempunyai anak perempuan bernama Komba Rawe. Ncuhi tersebut kemudian dikenal dengan nama Ncuhi Patakula. Cerita rakyat setempat menyebutkan, putra raja Tulang Bawang (berasal dari wilayah Sumatera) terdampar di daerah Woja dalam pengembaraannya, tepatnya di wilayah Woja bagian timur. Kemudian putra raja Tulang Bawang tersebut menikah dengan putri Ncuhi Patakula. Selanjutnya para Ncuhi sepakat menobatkan putra raja Tulang Bawang sebagai raja Dompo (Dompu) yang pertama.

Sedangkan Raja Dompu ke-2 bernama Dewa Indra Dompu yang lahir dari perkawinan antara putra Indra Kumala dengan putra Dewa Bathara Dompu. Berturut-turut Raja yang menguasai daerah Dompu saat itu adalah, Dewa Mbora Bisu, yang merupakan Raja Dompu yang ke-3. Raja ke-4 Dompu adalah Dewa Mbora Balada, yang merupakan saudara dari Dewa Mbora Bisu dan Dewa Indra Dompu. Sedangkan Raja Dompu ke-2 bernama Dewa Indra Dompu yang lahir dari perkawinan antara putra Indra Kumala dengan putra Dewa Bathara Dompu. Berturut-turut Raja yang menguasai daerah ini adalah Dewa Mbora Bisu, yang merupakan Raja Dompu yang ke-3. Raja ke-4 Dompu adalah Dewa Mbora Balada, yang merupakan saudara dari Dewa Mbora Bisu dan Dewa Indra Dompu.

Pengganti Dewa Mambora Balada adalah putranya yang bernama Dewa yang punya Kuda dan memerintah sebagai Raja yang ke-5, Dewa yang mati di Bima, Raja yang dikenal sebagai seorang yang diktator, sehingga diturunkan dari tahta kerajaan oleh rakyat Dompu ialah Dewa yang mati di Bima. Beliau konon menggantikan ayahnya (Dewa yang punya Kuda) sebagai Raja yang ke-6 di Dompu, akhirnya di bawa ke Bima dan meninggal di sana, Dewa yang bergelar "Mawa'a La Patu". Raja inilah sebenarnya yang akan di nobatkan sebagai raja Dompu yang menggantikan dewa yang mati di Bima, namun beliau ke Bima dan selanjutnya memerintah di sana. Pada masa pemerintahan Raja inilah terkenal satu ekspedisi dari Kerajaan di pulau Jawa yakni kerajaan Majapahit yang konon ekspedisi tersebut di pimpin oleh salah seorang Panglima perang bernama Panglima Nala pada tahun 1344, namun ekspedisi tersebut ternyata gagal. Oleh rakyat Dompu raja yang satu ini sangat dikenal sebagai raja yang disiplin dalam menjalankan pemerintahanya, teratur dalam sosial ekonomi maupun politik sehingga masyarakat saat itu memberi gelar sebagai "Dewa Mawa'a Taho" semula raja ini dikenal dengan nama "Dadela Nata". Beliau adalah raja yang ke-7 dan merupakan raja Dompu yang terakhir sebelum masuknya ajaran Islam di Kerajaan Dompu, raja tersebut berkedudukan atau bertahta di wilayah Tonda.

Selain empat Orang Ncuhi yang terkenal di Dompu terdapat pula Ncuhi lainya seperti Ncuhi Tolo Fo'o, Nehi Katua, Ncuhi Dorongao, Neuhi Parapimpi dan Ncuhi Dungga, para Ncuhi mengusai satu wilayah dengan penduduknya di beberapa bekas pemukiman lama atau perkampungan yang di kuasai oleh para Ncuhi dan sampai saat ini nama perkampungan itu masih melekat bahkan telah di abadikan menjadi salah satu nama Desa atau kecamatan di Kabupaten Dompu.

Beberapa perkampungan atau negeri yang pernah menjadi wilayah kekusaan para Ncuhi itu misalnya: negeri Tonda, negeri Soro Bawah letaknya di Doro La Nggajah letaknya ditepi pantai teluk Cempi Hu'u, negeri Bata letaknya di Doro Bata Kelurahan Kandai Satu, negeri Tolo Fo'o letaknya di sebelah utara Dusun Rababaka Desa Matau kecamatan Woja, negeri Para Sada sekarang merupakan lokasi persawahan So Mangge Kalo di kampung Pelita kelurahan Bada, negeri La Rade lokasi tersebut berada di areal pertanian So Jero, negeri Dungga terletak di sekitar Dam Raba Laju, negeri Dorongao letaknya di kelurahan Kandai Satu Kecamatan Dompu.

Ekspedisi Majapahit yang dipimpin oleh Panglima Nala dan di bawah pimpinan Sang Maha Patih Gajah Mada mengalami kegagalan pada ekspedisi pertama sekitar tahun 1331, selanjutnya menyusul ekspedisi yang ke-2 pada sekitar tahun 1357 yang di bantu oleh Laskar dari Bali yang dipimpin oleh Panglima Soka, Ekspedisi yang ke-2 inilah Majapahit berhasil menaklukkan Dompu dan akhirnya bernaung di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Dompu merupakan hasil penyatuan atau bersatunya para Ncuhi yang ada di wilayah Dompu saat itu, systim pemerintahan berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja (Sangaji) disebutlah susunan para raja yang pernah berkuasa di kerajaan Dompu antara lain: Dewa Sang Kula, Dewa Tulang Bawang, Dewa Indra Dompu, Dewa Mambora Bisu, Dewa Mambawa Balada, Dewa Kuda (Dewa yang punya kuda) dan Dewa Mawa'a Taho serta Dewa Dadalanata.

Posting Komentar untuk "Dompu Pada Zaman Ncuhi dan Kerajaan"

data-ad-format="auto">
data-ad-format="auto">