Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dompu Pada Masa Penjajahan Jepang

Dompu Pada Masa Penjajahan Jepang


Masa pendudukan Jepang di Dompu berlangsung tahun 1942 - 1945, atau sekitar bulan Mei 1942 sampai dengan bulan Agustus 1945. Kedatangan Jepang ke pulau Sumbawa sangat di tunggu oleh rakyat Dompu dan pulau Sumbawa pada saat itu, dengan harapan kedatangan pasukan Nipon tersebut dapat membantu masyarakat setelah penjajahan Belanda yang sudah berlangsung ratusan tahun tersebut, namun kenyataannya harapan itu tinggal mimpi belaka, bukan Dewa penolong yang datang, justru malah dengan kedatangan pemerintah Dai Nipon (Jepang), kehidupan rakyat tambah sengsara.

Pada saat Jepang berkuasa di wilayah Dompu, Dompu saat itu masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Bima. Hal itu diperkuat dengan adanya perjanjian antara Jepang dengan Kerajaan Bima pada tanggal 11 Mei 1942 dimana isi daripada perjanjian tersebut menyata kan bahwa: "Kerajaan Dompu masuk dalam wilayah kerajaan Bima". Menurut beberapa sumber sejarah di Dompu, surat perjanjian tersebut dibuat dalam kondisi tekanan dari pihak pemerintah Dai Nipon Jepang. Surat perjanjian yang ditanda tangani pada 5 September 1942 itu ditanda tangani oleh M.Tajul Arifin, Jeneli Dompu M.Saleh Abdullah, Jeneli Kempo, Rati Rasa NaE, Rato Renda Dompu, Gelarang Katua dan Gelarang Ranggo

Setelah perjanjian ditanda tangani, maka selanjutnya Sultan Bima mengangkat M.Amin Daeng Emo menjadi Jeneli Dompu dan M.Nur Amin sebagai Jeneli Kempo. Sementara MT.Arifin Siradjuddin diang kat sebagai Tureli Dompu dan Abdullah Daeng Tenga diangkat menjadi Tureli Adu. Dalam menjalankan roda pemerintahaan di Bima dan Dompu, para petinggi daerah (Bima/Dompu) selalu mendapat campur tangan dari pihak Jepang sebagai pemerintah penjajah Mulai saat itu rakyat Dompu dan Bima tidak simpatik lagi terhadap pemerintah Dai Nipon. Jepang mulai membentuk pasukan tentara pribumi dengan merekrut para pemuda yang selanjutnya dilatih militer.

Tahun 1943, Jepang tampaknya mulai terdesak oleh pasukan Sekutu, maka pemerintah Dai Nipon mulai mengumbar janji-janji terhadap penduduk pribumi auntuk mengikat hati rakyat. Untuk menda patkan tenaga atau pasukan perang yang terlatih, Jepang selanjutnya membentuk Perwira Pembela Tanah Air (PETA) dimana anggota PETA tersebut terdiri dari para pemuda dan tokoh-tokoh masyarakat pribumi. Menurut catatan sejarah di Dompu menyebutkan, tokoh-tokoh PETA di Dompu antara lain yakni: Abdurahman H. Ahmad, Bahnan Daeng Situru. Muhammad Jabir, Ibrahim Singke dan lain-lain. Selain itu, untuk lebih memikat hati rakyat Dompu, Jepang merekrut pula beberapa tokoh pemuda untuk dididik menjadi tentara khusus Haiho (Rikugen Hei), kemudian pegawai pemerintah Dai Nipon dilatih khusus untuk menjadi pasukan berani mati (Tei seinendan).

Pada tanggal 16 Juni tahun 1945, Pemerintah Dai Nipon mengadakan sidang di Singaraja Bali dan dihadiri oleh Bung Karno, sedangkan dari Dompu diwakili oleh M. Amin Daeng Emo. Bima diwakili oleh M.Idris Djafar dan dari Sumbawa diwakili oleh Lalu Abdul Wahab

Tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan Kemer dekaannya. Berita proklamasi ini baru diketahui di wilayah pulau lombok dan pulau Sumbawa (NTB) sekitar awal September 1945, sedangkan pada tanggal 18 Agustus 1945 atau setelah sehari proklamasi kemerdekaan, di Mataram (Lombok) pihak Jepang sudah menyerahkan kekuasaan kepada pihak Indonesia .

Goa Jepang, bukti peninggalan pemerintah Dai Nipon di Dompu

Selain terkenal dengan gelombang pantai La Key, ternyata di wilayah Kecamatan Hu'u Kabupaten Dompu juga dikenal dengan obyek wisata sejarah, baik sejarah peninggalan purbakala maupun peninggalan sejarah pada saat masa penjajahan.

Disamping situs purbakala seperti situs Nangasia, Situs Batu Kadera (Kursi Raja), Situs Batu kubur dan lain sebagainya, ternyata di wilayah sepanjang pesisir pantai Hu'u terdapat peninggalan sejarah berupa Goa atau Bunker Eks. Tentara Jepang. Saat ini barangkali hanya monumen Goa Jepang saja yang dikenal oleh masyarakat dimana letaknya sekitar 1 km dari Jalan raya komplek perhotelan di La Key

Akhir tahun 2009, H. R. M. Agoes soeryanto bersama Dandim 1614/Dompu Letkol Inf. Drs. Kusdiro dan beberapa tokoh masyarakat Dompu mencoba menyusuri beberapa jejak bekas Bunker Jepang yang berada di sekitar lokasi Monumen Goa Jepang dan disekitar pantai La Key Hu'u. Sebelum menuju Monumen Goa Jepang, ternyata sekitar 100 meter dari jalan raya juga ditemukan beberapa lobang yang sudah tertutup tanah dan belukar, setelah di gali beberapa centi meter, ditemukan lobang yang diduga merupakan Bunker eks. Tentara Jepang. Menurut Dandim 1614/Dompu Letkol. Drs Kusdiro, Monumen Goa Jepang dulu pada saat masa penjajahan Tentara Jepang merupakan tempat atau bangunan yang berfungsi sebagai Pos tinjau sekaligus merupakan benteng pertahanan pasukan tentara Jepang. 

Di sekitar Monumen Goa Jepang terdapat beberapa buah lobang yang ternyata merupakan Bunker, namun saat ini kondisi bunker tersebut sudah tertutup longsoran tanah dan tertutup semak belukar.

Dari komplek Monumen Goa Jepang, penulis dan rombongan langsung melanjutkan perjalanan menuju pesisir pantai La Key sebelum tiba di pantai, ternyata banyak pula ditemukan beberapa bunker eks. Tentara Jepang di sepanjang jalan raya menuju Nangadoro Bunker-bunker tersebut berada di dalam lokasi kebun milik warga setempat. Bunkur yang terbuat dari batu kali dan semen itu kondisinya sudah banyak yang rusak, bahkan ada beberapa lorong yang sudah tertimbun longsoran tanah.

Sebelum tiba di pantai La key, ditemukan pula beberapa buah bunker yang tersebar di lahan-lahan milik warga bahkan di salah satu Pohon besar atau tepatnya di depan halaman salah satu Hotel di la Key, ternyata ditemukan pula Bunker yang kondisinya juga sudah tertutup gundukan tanah dan pasir akibat kikisan atau ab rasi pantai. "Dulu di bawah pohon besar ini ada Bunker/Goa milik eks.tentara Jepang, "kata salah seorang tokoh sepuh di Hu'u. Batu kali yang dicampur adukan semen tampak masih terlihat menempel di sebagian akar-akar pohon besar tersebut. "Kemungkinan dulu Goa/bunker ini berada di bawah pohon ini, namun karena terjadi abrasi pantai, lama-lama tertutup gundukan pasir dan akhirnya menutupi lobang Bunker, papar Dandim.

Diantara Bunker-bunker tersebut, ada salah satu Bunker yang sangat besar bahkan lobang pintu masuk menuju lorong masih utuh dan bisa di masuki orang. Anehnya Bunker tersebut berada di atas lahan milik warga dengan ketinggian bangunan sekitar 3 meter. Bangunan tersebut terbuat dari batu kali dan semen, bangunan bunker yang satu ini nyaris utuh hampir seratus porsen, hanya beberapa bangunan sudah longsor di bagian dinding luarnya. Sementara di langit-langit lorong bunker masih terdapat sisa-sisa kayu yang berfungsi sebagai penopang atap pada saat mengecor atap Bunker. Didalam lorong ternyata sanga luas bahkan jika di masuki mobil bisa masuk. 

Dandim 1614/Dompu Letkol Inf. Drs. Kusdiro mengatakan pihaknya sangat peduli terhadap peninggalan sejarah tersebut, dan saat ini pihaknya bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kab. Dompu berencana akan membuat jalan setapak menuju lokasi tersebut agar memudahkan para pengunjung melihat bunker-bunker eks tentara Jepang tersebut. "Ini adalah salah satu bukti sejarah yang tidak boleh dibiarkan begitu saja, bunker ini memang milik tentara jepang sebagai benteng pertahanan saat menjajah Indonesia khususnya di wilayah Dompu. Yang memanfaatkan Bunker ini adalah tentara Jepang, tapi yang membuat atau pekerjanya adalah orang-orang kita (Orang Dompu-Red). Artinya ini juga merupakan hasil karya para sesepuh atau pejuang-pejuang kita dahulu, Kewajiban kita untuk memelihara dan melestarikannya agar kelak generasi yang akan dating dapat menikmati sekaligus bukti perjuangan bangsa kita melawan kaum penjajah," papar Dandim.

Abdurahman (90) alias Ahmad Komba, salah seorang warga Hu'u yang konon menjadi saksi saat pembuatan bunker oleh tentara Jepang menuturkan, Jepang masuk Dompu melalui pantai di wilayah Hu'u.Saat tentara Jepang masuk, mereka langsung mengumpulkan warga setempat untuk diajak kerja rodi membuat bunker sebagai tempat atau benteng pertahanan tentara Jepang. “Kita kerja siang malam, tidak di gaji hanya di kasih makan ala kadarnya, bahkan kadang-kadang tidak di kasih makan. Kita kerja terus siang malam di bawah pengawasan dengan todongan senjata tentara jepang,"kata Abdurahman, yang juga masih fasih berbahasa Jepang ini.

Menurutnya, banyak warga setempat yang mati pada saat pembuatan bunker-bunker tersebut, bahkan katanya, ada pula warga yang mati saat kerja dan langsung di timbun (di kubur) didalam bunker. Menurut Abdurahman, selain sebagai tempat pertahanan persembunyian, bunker-bunker tersebut oleh tentara Jepang juga dimanfaatkan untuk menyimpan logistik mereka, "Setelah Jepang menyerah oleh tentara Sekutu, menurut Abdurahman, ada beberapa bunker yang dimanfaatkan oleh Tentara Jepang untuk menimbun/ menyembunyikan senjata dan perlengkapan perang lainnya seperti pedang (Samurai) dan meriam serta beberapa barang berharga lainnya milik Tentara Jepang "Mungkin tentara Jepang takut kalau barang barang tersebut jatuh ke tangan musuh (Sekutu) atau takut diambil warga setempat. Tapi saya sudah agak lupa-lupa ingat kira-kira bunker mana yang dulu dipakai untuk menyimpan barang-barang tersebut, "papar Abdurahman yang masih nampak sehat dan fasih berbahasa Jepang tersebut. 

Letkol. Drs. Kusdiro (Dandim 1614/Dompu 2007 - 2011)

"Mengapa Jepang membangun Bunker di Hu'u"

Menurut Dandim 1614/Dompu Letkol (Int) Drs. Kusdiro, alasan Jepang membangun Goa/Bunker di wilayah Hu'u karena wilayah tersebut dianggap sebagai salah satu wilayah yang sangat strategis sebagai daerah pertahanan pihak militer Jepang.

Goa Jepang, yang terletak diatas ketinggian sekitar 200 meter dari permukaan laut atau tepatnya berada di atas perbukitan/belakang kawasan Hotel di La Key yang berhadapan dengan laut lepas (laut Australia) itu dari sisi pertahanan militer merupakan kawasan strategis dan sangat leluasa untuk memantau pihak musuh yang datang dari segala arah/penjuru. "Selain sebagai pos tinjau, bunker goa Jepang itu juga berfungsi untuk tempat pertahanan Tentara sekaligus sebagai tempat gudang penyimpanan logistik, "kata Dandim.

Lebih jauh Dandim memaparkan bahwa, Jepang memilih Hu'u sebagai basis pertahanan mereka (Tentara Jepang) hal itu tidak terlepas dari kajian strategi tempur pasukan Jepang sebelum memutuskan untuk menduduki wilayah Dompu melalui jalur Laut atau tepatnya di wilayah selatan Dompu. "Saat itu Laut merupakan jalur utama pasukan Jepang untuk menguasai beberapa wilayah yang ada di Nusantara ini, "katanya.

Menurut analisa Letkol. Kusdiro. pasukan tentara Jepang sebelum menduduki sebagian wilayah Nusantara, pihak Jepang sudah menguasai peta jalur pendaratan wilayah. "Tentara Belanda di kalahka oleh Jepang, rahasia militer termasuk peta wilayah otomatis bias dikuasai oleh Jepang. Menurut pendapat saya, Jepang berhasil merebut peta wilayah dari pihak Belanda termasuk peta jalur pendaratan ke wilayah Dompu yakni melalui jalur laut tepatnya melalui wilayah perairan Hu'u,"terang Letkol. Kusdiro.

Lebih lanjut Dandim 1614/Dompu ini memaparkan, Belanda dapat menguasai peta jalur masuk ke beberapa wilayah di Nusantara termasuk di Dompu itu dimungkinkan sebelumnya pihak Belanda telah menguasai peta wilayah yang didapat dari beberapa Kerajaan di Nusantara ini. "Saya berpendapat bahwa, jalur wilayah masuk Dompu melalui Hu'u itu seperti mengutip dari riwayat perjalanan tentara Majapahit di bawah komando Mahapatih Gajah Mada ketika hendak menaklukkan kerajaan Dompo (Dompu). "Ingat, sejarah di Dompu mencatat bahwa pasukan Majapahit masuk atau menyerang Dompu melalui jalur selatan yakni wilayah perairan Hu'u. Bisa juga Jepang masuk Dompu itu karena terinspirasi oleh ekspedisi pasukan Majapahit ketika hendak menaklukkan kerajaan Dompu,' terang Dandim.





Posting Komentar untuk "Dompu Pada Masa Penjajahan Jepang"

data-ad-format="auto">
data-ad-format="auto">

Berlangganan via Email