Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebudayaan Hiburan Lao Nggalo Masyarakat Dompu


Kebudayaan Hiburan Lao Nggalo Masyarakat Dompu
Berburu src: Wikipedia


Menangkap binatang liar seperti babi, rusa, kerbau liar, dan kambing liar, itulah yang disebut nggalo. Kegiatan ini termasuk salah satu yang menjadi hiburan baik bagi rakyat maupun raja. Kegiatan nggalo ini terdiri dari:

- Nggalo ndai, ialah mencari binatang liar yang dilakukan secara perorangan atau sekelompok kecil orang di tempat umum yang tidak terlarang

- Nggalo ndiha, ialah mencari binatang liar yang dilakukan oleh raja bersama pembesar-pembesar negeri dengan rakyatnya, sebagai salah satu kesenangan dan rekreasi dari raja dan pembesar-pembesar negeri lainnya pada kala itu.

Tempat-tempat untuk raja melakukan kegiatan nggalo ndiha itu adalah tertentu pula dan tempat itu biasanya disebut Ruhu Ruma atau tempat raja berburu dan tersebutlah di sini beberapa tempat, seperti:

1. Ranggo, di ujung utara so Ranggo-Doro Ruhu-sebelah selatan jalan menuju Jambu.

2. Tonda, di muka Potu ra Mata-Lampalisu.

3. Kempo, di sebelah barat Kampung Soro yang disebut Doro Kola. 

Di tempat-tempat ini, pada jangkauan tertentu, rakyat tidak diperbolehkan masuk ke dalamnya untuk melakukan kegiatan nggalo karna dikhususkan keperluan nggalo ndiha bagi raja. Adapun caranya nggalo ndiha dilakukan, seluruh rakyat yang berada di dekat tempat itu diberitahukan akan ada dilakukan nggalo ndiha. Pada hari yang sudah ditentukan, seluruh rakyat tua muda naik ke gunung dalam jarak yang jauh sampai-sampai puluhan kilometer, membawa anjing, tombak, dan lain-lain untuk menghalau menjangan, sedangkan raja beserta pembesar-pembesar negeri lainnya telah menunggu dan siap menanti di Ruhu Ruma, di tempat yang telah dibangun sebelumnya, namanya Sanggopa.

Orang banyak menghalau menjangan dari gunung supaya turun ke bawah, kemudian lari terbirit-birit di hadapan raja dan pembesar pembesar negeri dikejar dengan anjing dan manusia dengan tombak. Raja dan pembesar-pembesar negeri lain telah siap dengan senapan yang siap ditembakkan.

Rakyat pun menganggap yang demikian adalah kesenangan bersama antara raja dengan mereka, sedangkan untuk mereka yang ingin menunjukkan kecekatan serta ketangkasan di hadapan raja, menjangan dikejar dan ditangkap hidup-hidup, diusung dan dielu-elukan di hadapan raja dipuji dan disanjunglah dia oleh raja dan untuk kesempatan-kesempatan berikutnya orang demikian harus selalu diikutkan.

Menurut biasanya nggalo ndiha ini, maka berpuluh bahkan beratus ekor menjangan dapat ditangkap yang hasilnya secukupnya saja dibawa ke istana untuk raja dan permaisuri, selebihnya dibagikan kepada pembesar-pembesar negeri lainnya juga kepada rakyat sekalian.

Dalam acara ini permaisuri dan putra putri raja ikutlah dibawa serta.

Dikejar oleh anjing bersama orang berkepanjangan dan berjauh jauhan di padang yang luas atau di sawah, itulah pemandangan yang mengasikkan bagi raja. Apalagi bila nggalo ndiha itu dilakukan di Ruhu Kuma-Tonda atau di Soro-Kempo, di mana menjangan akan lari masuk ke dalam laut, dikejar dengan sampan, dikejar oleh anjing dan oleh orang yang punya kemahiran berenang, hal ini mempunyai keasikan tersendiri pula.

Nggalo menurut pengertian yang sebenarnya adalah menangkap hewan liar dengan menggunakan anjing. Namun dalam pelaksanaannya dipakai juga peralatan sebagai berikut:

1. Puka dan katotu untuk babi.

2. Sarente atau jerat untuk menjangan, kuda dan kerbau liar.

3. Bento mpou kai jara.

Untuk mencapai keberhasilan dalam mempergunakan berbagai jenis alat ini, orang harus memiliki ketrampilan dan pengetahuan tertentu mengenai memelihara anjing berburu dan membuat alat-alatnya.

Cara memelihara anjing untuk berburu: 

1. Anjing berburu selalu diberi makan nasi dengan cara nasinya dikepalkan (digumpalkan), kemudian dilontarkan ke arah anjing agar dapat ditangkap dengan mulutnya. Bila diberi makan daging, yang selalu diutamakan untuk diberi ialah daging kerongkongan dan paru-paru. Caranya juga seperti nasi tadi, yaitu dilontarkan dengan tujuan untuk mengajarkan kecekatan dan ketangkasan.

2. Bentuk badan dan warna bulu anjing menjadi pilihan, yaitu bentuk badannya yang tinggi semampai dengan kaki belakangnya tegak lurus. Itulah ciri anjing yang cekatan. Sedangkan warna bulu yang menjadi pilihan ialah yang hitam dan coklat di bawah perutnya yang dinamakan Loko Linta, itulah yang dianggap anjing penurut, cekat dan tangkas.

3. Setelah menjelang dewasa, mulailah diajarkan dibawa ke gunung, di tempat yang dekat dahulu untuk dicoba, adakalanya dengan melemparkan batu sejauh lemparan, agar dapat dipungut dan diantarkan ke tuannya, dengan ini diajarkan pengenalan medan maupun sasaran

4. Dengan hasil latihan yang tekun, ada anjing yang dimiliki oleh seseorang yang sangat patuh atas perintah tuannya. Misalnya suatu saat tuannya menghendaki agar mencarikan menjangan yang tanduknya sudah tumbuh sempurna, yang diberi istilah ntasa wanga, maka menjangan inilah yang dikejar oleh anjing itu.

Dalam memelihara anjing ada hubungan kejiwaan antara anjing peliharaan dengan pemiliknya karena adanya kedekatan.

1. Nggalo Kai Puka atau Katotu

Ini khusus untuk babi. Puka adalah semacam alat yang dibuat dari tali atau kulit kerbau, semacam jala bermata besar yang mudah dikerutkan apabila mengenai mangsanya, dibuat berpintu satu. Apabila babi masuk ke dalamnya maka tiadalah kemungkinan untuk melepaskan diri lagi karena puka tersebut akan berkerut dan akan tertutup dengan sendirinya.

Katotu pun demikian pula halnya karena dibuat dalam bentuk lancip ujung belakangnya, dibuat dari bambu bulat atau kayu dan dipasang di tempat-tempat yang miring letaknya, karena setelah babi masuk langsung meluncur ke bawah tanpa bisa berbalik lagi.

Tempat yang paling baik untuk memasang alat-alat semacam ini adalah yang paling sering dilalui oleh babi setiap harinya, ini disebut riwa.

2. Nggalo Kai Parangga

Perangkap itulah artinya, biasanya dibuat di dalam sungai yang bertebing curam, ditutuplah sungai di atas dan di bawahnya dengan pagar kayu yang kuat dan tinggi. Bila menjangan digiring masuk ke dalamnya, maka sukarlah untuk melepaskan diri kembali. Biasanya yang dipakai adalah sungai yang tidak berair (sungai kering).

Parangga ini biasanya dipimpin oleh seorang yang disebut punggawa atau panggita, karena untuk membuat parangga haruslah ada tata aturannya yang dinamakan uku ra lipa.

Punggawa atau panggita yang membuat parangga itu dianggap sebagai seorang ahli, yang apabila membuat parangga itu khusus menjangan maka dipakailah lipa made, maksudnya segala binatang yang masuk ke dalam parangga tiadalah harapan untuk hidup. Lain pula cara membuat parangga untuk menangkap kerbau liar, kuda liar, yang tujuannya untuk dijinakkan dan dipelihara, maka ukuran yang dipakai adalah lipa mori.

Banyak lucu tetapi ada benarnya, semacam lagi biasanya antara punggawa yang satu dengan punggawa yang lainnya saling bersaing dalam menunjukkan kemahiran dan kesaktiannya masing-masing dalam membuat parangga agar mendapatkan hasil yang banyak.

Dalam persaingan ini ada pula semacam mistik, pantangan bagi menjangan yang menurut mereka ialah apabila ditanamkan kulit siput di pintu masuk parangga, maka seekor pun menjangan tiadalah berani masuk ke dalam parangga, walau dihalau bagaimanapun menjangan itu akan kembali lari, kadang-kadang orang yang menghalaunya dilanggarnya. Rupanya sang menjangan sangat setia pada sumpahnya yang menurut ceritanya telah menyerah kalah tanpa syarat pada sang siput ketika diadakan lomba lari yang dimenangkan oleh siput dengan segala tipu muslihatnya, yang ceritanya akan diliput pada kesempatan berikutnya.

Cara menggiring menjangan masuk ke dalam parangga ialah semula pada sore harinya direntangkanlah lamba, yaitu tali yang dibuat dari daun enau, laju namanya di Dompu disambung sampai lima atau sepuluh kilometer panjangnya direntangkan setinggi badan dalam bentuk segi empat atau bundar telur tergantung pada situasi medan yang ujungnya nanti, akan bertemu dan diikatkan pada kedua belah pintu parangga.

Satu hal yang aneh tetapi benar pula, lamba yang lebarnya sekitar 2 cm itu tidaklah berani dilanggar oleh menjangan. Kalau pun hal ini terpaksa terjadi dan ini hanya disebabkan sesuatu yang terjadi adanya pantangan yang disimpan orang di pintu parangga, maka menjangan itu akan menemui nasib malang, di dalam dagingnya akan tumbuh atau terjadi semacam gumpalan air yang lama kelamaan akan berproses menjadi semacam tepung putih yang keras, dan akan meranalah hidupnya, orang menamakan putu oi.

Setelahnya lamba selesai direntangkan, maka sekitar jam 3 malam mulailah punggawa beserta seluruh anggotanya menghalau menjangan yang ada di dalam lingkaran lamba tadi digiring untuk masuk ke dalam parangga. Ini disebut Bali atau Baka dan berlarianlah menjangan itu menuju muara parangga dan masuklah menerima nasibnya, besar kecil tidaklah terkecuali. Bila untung baik maka jumlah menjangan yang masuk terbilang puluhan bahkan ratusan banyaknya.

Suatu hal yang lucu pula adanya ialah apabila adalah anak-anak menjangan yang kecil yang dianggap belum patut disembelih, ingin dilepas atau ditangkap dengan tujuan untuk dipelihara tidaklah dapat hidup. Syukarlah dianalisa sebab-sebab yang demikian ini bisa terjadi, apakah karena letih dan capai akibat digiring dari tempat yang jauh kemudian masuk ke dalam parangga dengan berdesak-desakan, membuat kondisi badannya berubah, ketahanan tubuhnya hilang namun cacat badan tiada tampak. Tapi ada semacam kepercayaan bagi mereka yang dianggapnya sebagai mistik, bahwa di kala membuat parangga itu adalah tata aturannya seperti yang sudah disebutkan ialah, uku ra lipa. Punggawa atau panggita yang membuat parangga dengan lipa made.

3. Nggalo Kai Sarente

Dengan memakai jerat, ada yang dibuat dari kulit kerbau dan ada pula yang terbuat dari kawat, dipasang direntangkan pada tempat yang biasanya dilalui oleh menjangan biasanya disebut riwa, juga pasang lamba kemudian dihalau.

Semacam lagi caranya ialah menjangan ditunggu di tempat yang sering dilaluinya itu. Orang duduklah di atas pohon kayu, dengan sarente di tangan yang demikian itu dilakukan pada saat-saat tertentu misalnya saat turun minum atau kembalinya pada siang hari, bila lalulah menjangan dan kebetulan orangnya cekatan pula, serente dimasukkan ke lehernya kemudian dilepaskan menggunakan sepotong kayu yang telah diikatkan, apabila dibawa lari pasti akan menyangkut.

4  Nggalo Kai Mpou

Di antara cara-cara menangkap menjangan seperti yang sudah diterangkan di atas, maka yang paling asyik dan menarik, ialah nggalo kai mpou. Semula menjangan diturunkan dari atas gunung dengan memakai anjing dan setelah sampai di lapangan yang luas, di sana telah tersedia penunggang kuda yang cekatan dan tangkas dengan bento (jerat) di tangan. Menjangan yang sudah ada di lapangan luas itu dikejarilah dengan kuda sampai dapat, ialah dengan memasukkan jerat ke lehernya lalu dilepas dengan kayu sepotong sebagai tangkainya, kalau dibawa lari oleh menjangan pasti akan tersangkutlah dia.

Tersebutlah tempat-tempat yang baik untuk kegiatan nggalo terutama yang menggunakan parangga, ialah di sera Doro Ncanga sampai ke dalam hutan-hutan Tambora, yang kini telah dijadikan Taman Buru Nasional.

Nggalo kecil-kecilan dapat juga dilakukan di semua tempat, karena memang dulu sangatlah banyak menjangannya.

Pengenalan

Sedikit diterangkan juga bagaimana caranya seorang punggawa atau anak buahnya dapat mengetahui bakal banyaklah menjangan di suatu tempat pada suatu waktu manakala akan dimulai Wa'a Lamba atau Lara Lamba agar kelak pasti ada menjangan di lingkar lamba.

Maka caranya mereka mengetahui ialah diadakan penelitian lapangan yang sangat hati-hati pada saat angin tiada bertiup mengamati, apabila:

a. Ada bekas-bekas kaki yang baru.

b. Ada kotoran kotoran menjangan yang baru.

C. Ada bunyi menjangan jantan.

Dari beberapa macam nggalo yang diliput di sini maka yang masuk sebagai hiburan rakyat adalah nggalo kai lako dan nggalo kai mpou, sedangkan selebihnya adalah nggalo sebagai usaha mencari tambahan penghasilan rumah tangga, dan yang paling berbahaya di antaranya adalah parangga karena akan mempercepat proses punahnya menjangan.



Israil M. Saleh,2020, Sekitar Kerajaan Dompu, buku litera, Yogyakarta h.  . . . . .321




Posting Komentar untuk "Kebudayaan Hiburan Lao Nggalo Masyarakat Dompu "

data-ad-format="auto">
data-ad-format="auto">